ISI Yakin Wujudkan Orkestra dengan Keunikan Kerawitan dan Musik Barat

ISI Yakin Wujudkan Orkestra dengan Keunikan Kerawitan dan Musik Barat

DENPASAR-Penampilan grup Steinhaus  Orchester Besigheim, Jerman, Sabtu ( 2/6) malam, memberikan energi positif bagi prodi musik Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. 

Bertempat di Gedung Chandra Methu, Prodi Musik Kampus ISI,  grup orkestra asal Jerman ini tampil dalam rangka Indonesia  Tour 2018, mengunjungi sejumlah kota besar di Indonesia. Mulai Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Banyuwangi dan terakhir di Bali. 

Orkestra yang  membawakan 11 lagu malam itu  merupakan kelompok  musik klasik yang telah terbentuk 15 tahun. Dengan    Instrumen musik spesial  alat tiup, Steinhaus Orchester tampil fleksibel, bahkan dalam konsernya malam itu tanpa menggunakan sound sistem, namun  suaranya cukup  jelas. Pementasan orkestra itu disaksikan langsung Rektor ISI Denpasar bersama jajaran rektorat , Dekan FSP, Dekan FRSD, dosen dan mahasiswa dari Prodi Musik .

Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar, M.Hum  usai menyaksikan orkestra menyambut baik dipentaskannya orkestra asal Jerman ini di Bali utamanya di Kampus ISI Denpasar. " Kita sangat berterimakasih kepada Mr. Jongky Goie yang memfasilitasi grup orkestra ini tampil di Prodi Musik ISI," tutur Prof. Arya.

Dikatakan, bagi ISI hadirnya orkestra ini  sangat bermanfaat, dimana ISI memang tengah menggarap musik barat lewat prodi musik. " Kita sangat Wellcome, meski sedang sibuk sibuknya belakangan ini, hari libur , namun  tetap kita terima sangat baik. Karena memang bicara musik itu  bidang kita. Jadi  selain konser , Mr. Jongky juga memberikan workshop kepada mahasiswa  prodi musik, dan malamnya menyaksikan orkestra, " ungkapnya. 

Lebih jauh , Prof Arya menegaskan, melalui grup orkestra asal Jerman ini sekaligus memperkuat keyakinan mereka ( mahasiswa prodi musik-red), kedepannya kita bisa maju, bahkan saya yakin kita bisa membentuk grup orkestra yang lebih bagus, dengan keunikan kerawitan yang diintegrasikan dengan musik barat," jelasnya. 

Hanya saja, lanjut pria asal Desa Pujungan, Tabanan ini menyebut ISI belum memiliki alat musiknya. " Kita sedang berjuang, dimana Jepang telah menghibahkan alat musik orkestra yang lengkap kepada ISI Denpasar, namun masih terkendala regulasi, kita sudah berkoordinasi dengan pihak KBRI di Jepang, semoga tidak lama lagi alat musik orkestra itu bisa kita miliki ," ucap Prof. Arya dengan penuh keyakinan . 

Sementara itu Jongky Goie mengungkapkan , penampila  grup orkestra kecil ini dari Jerman Selatan. "Saya memilih ISI Denpasar  sebagai tempat pertunjukan sekaligus  sebagai penutupan konser keliling di Indonesia, karena  saya pikir tempat di ISI Denpasar gedungnya cukup bagus dengan latar belakang dekorasi ornamen Bali, yang jarang sekali dijadika  tempat konser," tutur Jongky.

Kata dia, kehadiran grup orkestra ini yang terpenting mampu memberikan pesan bagi dunia pendidikan d musik khususnya  mahasiswa ISI Denpasar. " Intinya  yang  penting saya mau memberikan suatu pesan sebagai tantangan baru untuk mahasiswa dari  ISI untuk belajar musik klasik spesial untuk alat musik tiup, karena itu merupakan suatu tantangan besar bagi musisi besar di Indonesia, " ucap pria kelahiran Malang yang kini tinggal di Jerman lebih dari 40 tahun itu.

Jongky menambahkan, grup orkestra ini telah berdiri  lebih 15 tahun, dan kegiatanya memiliki projek berkeliling melakuka  konser. " Sebetulnya anggotanya ( Steinhaus Orchester -red) berjumlah  60 -70 orang, namun yang dibawa ke Indonesia berjumlah 32 orang,  setiap konser biasanya , kita kasi  6-8 lagu durasinya 60 menit, dan saya hanya membantu mencarikan tempat tempat konser yang refresentatif," pungkas pria  yang menuntaskan  kuliah  di Jerman, S1 musik piano dan S2 manajemen kebudayaan itu.

 

Comments are closed.