ISI Denpasar Ngaturang ‘Bakti Penganyar’ di Pura Besakih Puluhan Mahasiswa Asing Ikut ‘Ngayah’

ISI Denpasar Ngaturang ‘Bakti Penganyar’ di Pura Besakih Puluhan Mahasiswa Asing Ikut ‘Ngayah’

Sivitas Akademika Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang dipimpin langsung Rektor Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum,  ngaturang ‘bakti pengayar’ di Pura Agung Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Rabu (11/4). Menariknya, puluhan mahasiswa asing dari berbagai belahan dunia yang menempuh pendidikan program Dharma Siswa dilibatkan dalam aktivitas ‘ngayah’ (persembahan secara tulus ikhlas)

Pada kesempatan itu, rombongan ISI Denpasar yang didominasi mahasiswa dari Fakultas Seni Pertunjukan mempersembahkan Tari Rejang Dewa, Baris Gede, Topeng Sidha Karya, Wayang Kulit, serta tabuh (gamelan). Mahasiswa asing pun terlihat menikmati dan terampil memainkan alat musik dan menari Bali.    

‘Ngayah’ merupakan program pengabdian rutin ISI Denpasar setiap tahun di sejumlah pura-pura besar di Bali. Pada Kamis (5/4) kegiatan serupa dilakasanakan juga di Pura Hulun Danu Batur, Kintamani, Bangli. Selain membiasakan mahasiswa dalam beraktivitas, ‘ngayah’ merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan manusia sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Demikian dikatakan Rektor Arya di sela kegiatan.

Arya menambahkan, dengan mengajak peserta didiknya ‘ngayah’, nantinya akan terbiasa mengimplementasikan fungsi-fungsi seni. Karena setelah lulus, mahasiswanya tidak akan terlepas dari kegiatan itu. Diharapkan, para mahasiswa ISI Denpasar juga mampu menjadi pionir ‘ngayah’ di desa asalnya masing-masing. “Mahasiswa kami harapkan mampu membiasakan diri melaksanakan fungsi-fung kesenian. Di antaranya untuk ngayah, hiburan, menyenangkan orang lain dan untuk mencari penghidupan,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama ISI Denpasar I Ketut Garwa., S.Sn., M.Sn., menambahkan, sebagai perguruan tinggi seni yang terletak di Bali, ISI Denpasar berupaya berkontribusi terhadap aktivitas keagamaan di Bali. Apa lagi, kata dia, ISI Denpasar mempunyai kemampuan untuk itu. “Kegiatan ini salah satu bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi,” sebutnya, yang didampingi Humas I Gde Eko Jaya Utama, SE., MM.

ISI Denpasar, menurut Garwa, memprioritaskan pura-pura besar, seperti Dang Kahyangan, Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat, serta pura Tri Kahyangan di Desa Pakraman. Garwa menuturkan, dengan rutin melaksanakan ‘ngayah’ menandakan keseimbangan iklim pendidikan di ISI Denpasar, yang mana mahasiswa tidak hanya berteori di ruang kelas, namun berkesempatan turun langsung untuk praktik. 

Dalam kesempatan yang sama, salah satu panitia Karya Bethara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih mengucapkan apresiasi dan terimakasih kepada pihak ISI Denpasar. Ia berharap kegiatan semacam itu berlangsung kontinyu mengingat Besakih adalah milik seluruh umat Hindu

Comments are closed.